Tim PKK Rawa Pitu Melakukan Study Banding Demi Kemajuan Kampung

Tulang bawang – seluruh kecamatan Rawa pitu mengikuti Study banding Jogja-Bandung dari tanggal 23-28 September 2018. Studi banding merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan menambah wawasan dan pengetahuan yang akan diterapkan kedepannya untuk menjadi lebih baik. Kegiatan seperti ini tentunya sangat bagus bagi perkembangan suatu kebutuhan yang diharapkan sebagaimana mestinya. Pengertian dari studi banding itu sendiri adalah sebuah konsep belajar yang dilakukan di lokasi dan lingkungan berbeda yang merupakan kegiatan yang lazim dilakukan untuk maksud peningkatan mutu, perluasan usaha, perbaikan sistem, penentuan kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan, dan lain-lain.

Kegiatan studi banding dilakukan oleh kelompok kepentingan untuk mengunjungi atau menemui obyek tertentu yang sudah disiapkan dan berlangsung dalam waktu relatif singkat. Intinya adalah untuk membandingkan kondisi obyek studi di tempat lain dengan kondisi yang ada di tempat sendiri. Hasilnya berupa pengumpulah data dan informasi sebagai bahan acuan dalam perumusan konsep yang diinginkan. Persiapan yang dilakukan sebelum melakukan studi banding adalah melakukan tinjauan dan evaluasi internal, mengenai mana saja yang akan dikembangkan dan dinaikan progresnya. Setelah itu dibuat draft list secara terstuktur sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Tujuan utama melakukan studi banding nantinya adalah menggali sebanyak mungkin informasi yang bisa didapat scara teknis real dan empiris. Untuk dijadikan barometer dan pembanding yang kemudian masuk untuk menemukan sebuah pembaharuan yang aplikatif, baik untuk plan ke depan dalam jangka pendek dan jangka panjang secara futuristik. Jadi dengan kata lain tujuan dari studi banding tersebut adalah :
1. untuk menambah wawasan kita tentang tempat lain
2. untuk menimba pengalaman baru di ditempat lain
3. untuk membandingkan tempat kita dengan tempat lain
4. untuk menambah cakrawala berfikir kita

berkunjung di pusat kerajian dari Enceng Gondok

Tim PKK Rawa Pitu mengunjungi pusat kerajian yang bahan dasarnya dari enceng gondok. Tepatnya di Desa Panggung Harjo kecamatan Bantul, Tim PKK Rawa Pitu sedang praktek membuat alas gelas dari enceng gondok. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengambil batang enceng gondok yang sudah dijemur setelah itu dipipihkan dengan alat yang sudah disediakan jika sudah selesai maka langsung dianyam seperti membuat tikar hanya jika alas gelas ini kecil dan jangan lupa menggunakan lem perekat agar tidak mudah lepas.

Para peranjin ini sudah cukup lama membuat berbagai macam kerajinan dari enceng gondok ini salah satunya ialah kursi, meja, tutup saji makanan, tempat tisu, topi pak tani dan masih banyak lagi yang lainnya. bahkan hasil dari mereka ini sudah di kirim sampai dengan luar Negeri.

hasil kerajianan Desa Panggung Harjo

refresing di Malioboro 

Siapa sih yang enggak tahu Malioboro Jogja? Wisatawan yang niat awalnya cuma mau hunting tempat wisata alam di Jogja, pasti cari kesempatan buat mampir di destinasi piknik yang ikonik ini.

Sejarah

Begitu mendengar kata objek wisata Malioboro Jogja, apa sih yang di pikiran kamu? Belanja? Makanan? Atau nama tempat? Terus tahukah kamu “Malioboro” itu sebenarnya nama apa? Kalau kamu berpikir itu adalah nama daerah, maaf kamu keliru. Malioboro Jogja adalah suatu nama jalan yang keberadaannya sudah lama sekali. Kira kira tempat itu dibangun sekitar tahun 1750-an. Nah, penamaan jalan ini ternyata ada kaitannya dengan nama kota Jogja itu sendiri.

Jadi begini, menurut Dosen Sejarah UI, Prof Peter Brian Ramsey Carrey, nama asli kota Jogja adalah Ngayogyakarta. Nama itu terinspirasi dari sebuah nama kerajaan di kitab Ramayana, yaitu “Ayodya”. Orang Jawa menyebutnya Ngayodya, sehingga terdengar seperti “Ngayogya”. Di dalam kitab itu juga, ada satu jalan utama yang sangat terkenal. Jalan merupakan jalan utama tempat penyambutan Raja dan tamu tamunya, serta merupakan jalan penting yang memiliki banyak berkah.

Nama yang jalan tersebut adalah “Malyabhara”. Dalam Bahasa Sansekerta, “Malya” berarti bunga dan “bhara” yang diambil dari kata “bharin” yang artinya mengenakan. Jadi jalan yang mengenakan bunga (jalan yang istimewa). Nah, maka nama itu diambil untuk menamai jalan yang terletak dekat dengan Keraton Yogyakarta itu. Karena pengaruh pengucapan orang Jawa dimana huruf “a” dibaca “o”, maka terdengar jadi Malioboro. Ketika awal dibangun, jalan tersebut tidak langsung ramai. Adalah Belanda yang mempeloporinya sebagai pusat Kota di Yogyakarta sehingga jadi ramai. Karena ingin menyaingi popularitas Keraton Yogyakarta, Belanda lalu membangun Benteng Vredeburg dan The Dutch Club tahun 1800-an.

Karena semakin ramai, letak Malioboro jadi semakin strategis sehingga Belanda membangun rumah Gubernur Belanda di jalan tersebut. Itulah sekilas tentang sejarah Malioboro Jogja. Ada beberapa versi cerita berbeda yang muncul di kalangan masyarakat. Ada yang bilang nama jalan ini diambil dari nama seorang kolonial Inggris bernama Duke of Marlboro. Ada juga yang bilang bahwa penamaan tersebut berdasarkan papan iklan merek rokok yang dulu dipajang di tempat itu. Kebenaran tentang kedua cerita di atas belum bisa dipastikan. Hanya saja, cerita cerita tersebut tidak berdasar dan tidak ada penjelasan ilmiah berupa bukti atau dokumen pendukung.

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan